Opini

Ruang untuk posting “opini” kamu seputar masalah-masalah yang dipublikasi media berita online, cetak, maupun audio visual. Copy dan pastekan pada “kotak reply comment” di bawah ini.

2 Tanggapan to “Opini”

  1. Salim Says:

    Perang 1967, Awal Teror Israel atas Bangsa Arab
    Senin, 18-06-2007 15:54:32 oleh: Prima Sp Vardhana

    Pertempuran tanpa akhir. Tidak ada yang unggul (menang) di medan laga, juga tidak ada yang kedengser (kalah)
    dari arena tanah berdarah. Citra itulah yang lekat dalam perseteruan berkepanjangan antara Israel dan Palestina.
    Kendati sudah ribuan nyawa meregang dari diri para syuhada Palestina, tentara Israel, dan rakyat sipil
    kedua belah pihak. Namun, siapa pun tak akan tahun kapan akhir dari perseteruan Palestina dan Israel.
    Mengapa harus setragis ini?
    Kalau disibak dari guratan sejarah yang ditorehkan oleh tetesan darah masing-masing individu yang meyakini,
    bahwa negara mereka paling berhak atas tanah Palestina. Sehingga percengkeramaan dengan malaikat
    elmaut yang dialami para syuhada Palestina, tentara Israel, dan rakyat sipil kedua belah pihak negara,
    merupakan sebuah perjuangan syahid yang akan mengantar mereka sebagai penghuni surga jannah.
    Secara politis dapat ditarik sebuah benang merah, bahwa perseteruan antara Palestina dan Israel adalah
    sebuah pertempuran balas dendam yang memiliki latar belakang sangat ironis.

    Salah satu peristiwa yang layak dituding sebagai penyebab perselisihan tak berakhir ini adalah Perang Timur Tengah pada tahun 1967. Perang ini merupakan yang ketiga dalam konflik Arab-Israel, dan yang paling sukses bagi Israel. Negara “Para Nabi” ini meraih semua sasaran perangnya, di antaranya berhasil menduduki seluruh tanah Palestina, termasuk Jerusalem Timur yang milik Arab, Semenanjung Sinai milik Mesir, dan Dataran Tinggi Golan milik Syria.

    Saat itu, Israel hanya memerlukan waktu enam hari untuk meremukkan angkatan bersenjata Mesir, Yordania, dan Suriah. Namun, selama lebih dari 40 tahun terakhir, peninggalan perang itu masih menentukan bentuk konflik yang terjadi dewasa ini.

    Tidak seperti krisis Suez di tahun 1956, ketika tentangan dari Washington berhasil memaksa Israel untuk menarik diri dari wilayah yang telah direbutnya, para pejabat Israel kali ini bersikap hati-hati sekali dalam menanamkan pengertian para pejabat AS tentang posisi mereka. Akibatnya Israel tidak mendapatkan tekanan dari AS untuk menyerahkan hasil-hasil yang telah dicapainya. Pertempuran dimulai pada 5 Juni dan berakhir pada 10 Juni. Israel merebut Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza dari Mesir. Dataran Tinggi Golan dari Surian, dan Tepi Barat dan Yerusalem Timur dari Yordania.

    Perang ini memaksa sekitar 250.000 warga Palestina harus hidup dalam pengungsian. Nasib yang sama juga harus dialami lebih dari 100.000 warga Suriah. Karena itu, perdamaian di Timur Tengah peluangnya sangat kecil sebelum masalah pengungsi yang terusir dari negaranya itu terselesaikan.

    Israel terlibat dalam perang lain yang sangat serius dengan Suriah dan Mesir tahun 1973, tapi tikaman utama dari pihak Arab terhadap Israel berasal dari kelompok-kelompok Palestina, yang dipimpin oleh PLO-nya Yasser Arafat. Bagi warga Palestina, pelajaran dari kekalahan mempermalukan yang dia diderita negara-negara yang berbatasan dengan Arab pada tahun 1967, adalah tidak ada negara lain yang akan bertempur demi mereka.

    Kegagalan nasionalisme Arab pada tahun 1967 juga menjadi faktor utama dalam perkembangan awal Islam politis. Masjid mulai memberikan jawaban atas pertanyaan yang tidak bisa dijawab secara meyakinkan oleh orang-orang kuat berhaluan sekuler.

    Mitos Perang Timur Tengah 1967 adalah bahwa Israel sebagai David (Daud) membunuh Goliath (Jalut) yang diperankan pihak Arab. Lebih tepat jika dikatakan ada dua Goliath di Timur Tengah pada tahun 1967. Orang-orang Arab, yang dianggap sebagai satu kubu, memiliki angkatan bersenjata dalam jumlah besar, tapi tidak siap bertempur.

    Goliath Yahudi tengah dalam kondisi yang paling kuat, dan menyadarinya, atau setidaknya para pemimpinnya menyadari hal itu. Pada tahun 1967, Israel adalah negara benteng. Tidak ada televisi saat itu, dan para jenderal dan politisi tidak membocorkan urusan mereka kepada wartawan yang mereka sukai seperti yang terjadi kini.

    Imbalan yang diraih Israel, selain kemenangan itu sendiri, adalah hubungan strategisnya dengan Amerika Serikat. Empat hari setelah perang berakhir, Menlu AS Dean Rusk memperingatkan, jika Israel tetap mencengkeram Tepi Barat, warga Palestina akan menghabiskan sisa abad ke-20 untuk merebutnya kembali.

    Empat tahun kemudian, Israel memukimkan sekitar 450.000 warganya di tanah yang dicaplok pada tahun 1967, dengan mengesampingkan penafsiran hukum internasional siapa saja, kecuali penafsirannya sendiri.

    Para pemukim dilindungi dengan segala sumber daya negara, termasuk angkatan bersenjata Israel, IDF, dari orang-orang yang memberontak, yang banyak di antaranya yakin aksi kekerasan yang kejam terhadap warga sipil dan tentara adalah reaksi syah terhadap pendudukan oleh Israel.

    Bagi bangsa Palestina, pemukiman Yahudi itu membawa petaka, dan semakin memburuknya kondisi berkewarganegaraan. Ini karena para pemukim Yahudi itu berkembang dengan pesat. Setelah empat puluh tahun, Israel tidak bisa lagi mengandalkan dukungan internasional yang dia peroleh pada tahun 1967.

    Para pemukim Yahudi melihat keberadaan mereka sebagai aset nasional, keniscayaan dan kewajiban, tapi banyak warga lain Israel, dalam berbagai kadar, yakin pemukiman dan semua peninggalan 1967 yang memperdalam konflik dengan Palestina, merupakan bencana nasional, bahkan lebih bersifat dunia. Pasalnya, sejak saat itu para bangsa Yahudi dituding dan dimusuhi bangsa-bangsa se-dunia.

  2. jabal Says:

    Ingat pembantaian waktu subuh di Hebron?
    Muslim palestina jadi korban, pembantaian oleh rakyat sipil israel yang dipersenjatai. Serta pembantaian-pembantaian lainnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: