Warga Irak Ingin Tenang Saat Berpuasa

Banyak warga membuat pagar beton di depan rumah untuk menghindari serangan bom.
Kekhawatiran menghinggapi warga Baghdad, ibu kota Irak, pada Ramadhan ini. Mereka tak tahu pasti kekerasan memudar seiring dengan datangnya Ramadhan atau akan terus terjadi.

Sejak pendudukan pasukan Amerika Serikat (AS) dan koalisinya pada Maret 2003 silam, kekerasan terus merebak. Tidak hanya kekerasan sebagai buah dari perlawanan terhadap pendudukan tersebut. Kekerasan juga lahir akibat persengketaan sektarian antara kelompok Sunni dan Syiah.

Dari hari ke hari korban jiwa pun berjatuhan. Warga Baghdad pun memanjatkan munajat agar Ramadhan ini berjalan dengan damai.

Rasa khawatir memang masih terselip di dalam hati. Mereka takut terjadi kekerasan berupa kontak senjata dan serangan bom. Mereka pun membuat perlindungan di depan rumah.

Benteng berbahan semen mereka bangun untuk mengantisipasi terjadinya serangan. ”Saya berharap semua pihak menghormati kesucian Ramadhan dan menahan diri agar tak ada lagi korban warga sipil,” kata Sadoun Sadiq, seorang pedagang alat-alat listrik di wilayah Karrada, Baghdad.

Sadiq berdoa agar para imam membantu berupaya agar ketegangan sektarian tidak pecah selama Ramadhan. ”Saya berharap para imam melakukan upaya terbaik mereka untuk mendorong terjadinya persatuan di negeri ini daripada memicu kekerasan,” katanya.

Um Khalid, seorang ibu rumah tangga, berharap ketegangan sektarian juga luruh. Tak ada pertikaian dan kekerasan yang kemudian menjelma antara Sunni dan Syiah saat Ramadhan. Ini penting agar tak ada lagi korban warga sipil tak berdosa.

Siapa pun yang melakukan serangan bom dan meledakkan mobil-mobil yang membuat warga sipil tak berdosa meregang nyawa, kata Um Khalid, merupakan orang-orang yang tak beragama dan tak takut pada Tuhan. Mereka tentu tak akan menghormati kesucian Ramadhan.

Firas, seorang pegawai pemerintah, juga sangat cemas. ”Saya tak berpikir bahwa kekerasan selama Ramadhan akan menurun. Apalagi, kini terdapat perbedaan politik yang begitu tinggi di Pemerintahan Irak,” ungkapnya.

Sekarang ini, jelas Firas, banyak pihak yang menghendaki perubahan di pemerintahan. Penjelasannya mengacu pada 17 dari 40 menteri pimpinan Perdana Menteri Nuri al-Maliki melakukan boikot, bahkan ada yang sudah mengundurkan diri.

Militer AS yang mengawali pendudukan di Irak dan menempatkan ribuan pasukannya di Baghdad sempat menyatakan tingkat kekerasan sebelum Ramadhan tahun ini menurun dibandingkan tahun lalu. Diharapkan ini terus berlangsung.

Letnan Jenderal Raymond Odierno, salah satu Komandan AS di Irak, menyatakan bila kecenderungan tersebut terus berlangsung hingga Ramadhan berakhir, akan berpengaruh pada kemungkinan pengurangan pasukan AS di Irak. ”Ramadhan merupakan bulan besar. Maka, apa yang terjadi di 45 hari selanjutnya merupakan hal yang penting. Selama sebulan sebelum Ramadhan kami menilai bahwa kekerasan terus berkurang,” kata Odierno belum lama ini.

Meski kekhawatiran membalut hati warga Irak, mereka tetap bersiap menyambut Ramadhan. Mereka keluar rumah memenuhi jalanan pergi ke pasar dan sejumlah kebutuhan. Kembang gula, roti, dan bahan makanan lain merupakan sejumlah barang yang mereka beli di pasar.

Shorja, pasar tertua yang ada di Baghdad dan kerap menjadi target sejumlah serangan, sarat dengan berbagai aktivitas. Kesibukan yang kian memuncak akan terus berlangsung selama hingga akhir Ramadhan nanti.

Sejak Senin (10/9) warga Baghdad telah berjejal di pasar tersebut. Laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak menyesaki setiap sudut Pasar Shorja. Tidak hanya kios makanan yang berderet tetapi juga sejumlah kios menjual lentera.

Warga Irak, termasuk Baghdad, kerap menggunakan lentera untuk menerangi rumah selama Ramadhan. Karena khawatir ada serangan bom, mereka tetap membangun pagar beton di depan rumah dan mengganti pintu rumah dengan pintu baja tebal.

Pasar Makin Ramai

Laiknya tahun-tahun sebelumnya, aktivitas di Pasar Shorja makin ramai. Kemungkinan pasar akan tetap buka hingga menjelang tengah malam. Biasanya pasar ini masih berdenyut hingga pukul 23.00 waktu setempat. Kesibukan ini memang membuat para pedagang benar-benar sibuk.

Mohammad Saleh, seorang penjaga kios yang menjual gula, kacang, rempah, dan barang lainnya, begitu sibuk karena banyak pembeli yang silih berganti mendatangi kios yang ia jaga. ”Ramadhan telah membuat perdagangan meningkat,” ungkapnya.

Saleh bersyukur karena meningkat tajamnya transaksi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Menurut dia, pendudukan pasukan AS dan koalisinya telah membuat serangan terus berlangsung dan memberikan dampak buruk terhadap perdagangan di pasar tersebut. Transaksi jual beli pun sepi.

Bahkan, kata Saleh, banyak pedagang yang menderita kerugian karena tak banyak pembeli yang datang karena khawatir menjadi korban serangan. Dia telah memiliki persediaan barang melimpah hingga akhir Ramadhan yang didatangkan dari Suriah, Yordania, dan Turki.

Um Ahmed, seorang ibu rumah tangga, menyatakan Pasar Shorja yang telah berumur 400 tahun memang menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadhan bagi warga Baghdad. ”Tradisi mengunjungi pasar ini merupakan sebuah tradisi yang tak bisa dihilangkan begitu saja,” katanya.

Ibu berputra empat ini dan warga lainnya mengunjungi pasar untuk mendapatkan kebutuhan-kebutuhan rumah tangga selama Ramadhan. Ia menyatakan selama Ramadhan kerap mempraktikkan resep-resep masakan Irak.

(ap/afp/fer )

Sumber : http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=306653&kat_id=164

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: