Puasa Korupsi Harus Jadi Tekad Semua Orang

JAKARTA — Kesadaran dan keikhlasan yang mendalam terhadap makna puasa, akan menjadikan seseorang tidak berani melakukan korupsi. Puasa dapat menjadi awal mula pemberantasan korupsi. ”Kita selalu mendengungkan makna puasa yang tidak hanya menahan lapar dan dahaga. Berpuasa terhadap perbuatan lainnya yang merusak esensi puasa itu pun, semestinya tidak dilakukan, termasuk korupsi,” kata anggota Badan Pemeriksa Keuangan, Baharuddin Aritonang, Selasa (11/9) di Jakarta.

Segala perbuatan yang masuk kategori korupsi, harus dihentikan selama Ramadhan. Dengan tidak melakukan korupsi selama sebulan, diharapkan menumbuhkan kesadaran agar tak melakukannya di bulan lain. ”Berpuasa korupsi harus menjadi tekad semua orang,” tegas Aritonang.

Ketua PBNU, Masdar F Mas’udi, mengimbau agar Ramadhan benar-benar dijadikan sebagai bulan pertobatan bersama, terutama bagi pemimpin umat dan bangsa. ”Karena sesungguhnya keterpurukan dan kebangkrutan negeri ini adalah akibat sikap mementingkan diri sendiri dan ketamakan para pemimpinnya,” kata Masdar.

Dia juga mengharapkan Ramadhan menjadi awal pembiasaan diri untuk hidup sederhana dengan tak mengonsumsi barang-barang mewah yang tidak diperlukan. ”Lebih-lebih barang tersebut bukan hasil karya bangsa sendiri.”

Penetapan awal dan akhir puasa oleh pemerintah, menurut Masdar, cukup tepat dijadikan acuan karena diambil berdasarkan musyawarah bersama berbagai organisasi Islam. ”Hal itu penting demi menghindari silang pendapat yang hanya membuat kebingungan umat,” katanya.

Presiden PKS, Tifatul Sembiring, saat silaturahim ke Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, mengatakan, pihaknya mulai tahun ini tidak lagi menentukan awal puasa, Idul Fitri, maupun Idul Adha, seperti tahun-tahun sebelumnya.

PKS menyerahkan keputusan tersebut kepada pemerintah. ”Hal ini untuk meminimalisasi perbedaan di antara organisasi Islam tentang penentuan tanggal-tanggal tersebut.”

Sementara itu, Ketua Umum PB Mathla’ul Anwar, Irsjad Djuwaeli, menyerukan agar Ramadhan dilaksanakan dengan penuh keimanan dan kesungguhan. ”Umat Islam harus lebih selektif dalam membaca media cetak dan menonton televisi,” katanya.

(ant/has )

Sumber : http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=306616&kat_id=3

Satu Tanggapan to “Puasa Korupsi Harus Jadi Tekad Semua Orang”

  1. sahman Says:

    Korupsi sudah terlalu parah.
    Apakah puasa benar-benar bisa menghilangkan “keberanian” para pejabat untuk melakukan korupsi?
    Kalau puasa yang mereka laksanakan benar-benar ikhlas karena Allah, mungkin ada harapan korupsi akan terentaskan. Akan tetapi, kalau mereka berpuasa asal-asalan saja, tidak akan mengubah watak mereka yang sudah terjangkiti “keberanian” untuk melakukan tindak korupsi.
    Kalau aku lebih setuju cara ekstrim untuk memberantas korupsi, yaitu: semua pejabat di bawah menteri dipecat semuanya dan dibebastugaskan, dan hanya diposisikan sebagai pengawas saja. Mereka harus diganti dengan tenaga2 baru yang masih fresh, melewati seleksi yang ketat. KPK harus ikut andil dalam penentuan materi tes, dan hal-hal lainnya dalam proses rekrut itu.
    Setelah itu, presiden mulai membangun iklim birokrasi baru, memang berat, tetapi itulah cara paling ekstrim untuk memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya.
    Kalau ada komentar… silahkan posting di sini….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: